Home > Naskah Sejarah > Amanat Galunggung

Amanat Galunggung

Saripati dari naskah tersebut pada intinya berisi tentang tetekon hirup, yakni :

1. Keharusan untuk menjaga dan mempertahankan tanah kabuyutan dari gangguan orang asing, bahkan tanah kabuyutan sangat di sakralkan. Iapun menyebutkan, bahwa : lebih berharga kulit lasum (musang) yang berada ditempat sampah dari pada putra raja yang tidak mampu mempertahankan tanah airnya.

2. Memotifasi agar keturunannya untuk tetap mempertahan Galunggung. Dengan cara mendudukan Galunggung maka siapapun akan memperoleh kesaktian, jaya dalam berperang, dan akan mewariskan kekayaan sampai turun temurun.

3. Agar berbakti kepada para pendahulu yang telah mampu mempertahan tanah air pada jamannya masing-masing.

Amanat Galunggung intinya merupakan ajaran atau visi yang harus dimilik setiap ‘Urang Sunda’, terutama dalam cara hirup kumbuhna. Sehingga dapat membentuk diri sebagai pribadi yang positif dan mencerminkan kesejatian manusia.

Berikut dibawah ini Ringkasan ‘Amanat Galunggung’, yang disarikan dari nalaroza.wodpress.com Dalam tulisan ini sengaja hanya ditampilkan terjemaahan dari koropak 632 oleh Saleh Danasamita (1987), naum tidak pada analisanya ataupun pendapatnya. Hal ini semata-mata agar diketahui keaslian dan universalitasnya ajaran Sunda Buhun.


Halaman 1 :

Prabu Darmasiksa menjelaskan tentang nama-nama raja leluhurnya. Iapun memberikan amanat atau nasihat kepada: anak, cucu, umpi (turunan ke-3), cicip (ke-4), muning (ke-5), anggasantana (ke-6), kulasantana (ke-7), pretisantana (ke-8), wit wekas ( ke-9, hilang jejak), sanak saudara, dan semuanya.

Halaman 2 :

Pegangan Hidup :

Perlu mempunyai kewaspadaan akan kemungkinan dapat direbutnya kemuliaan (kewibawaan dan kekuasaan) serta kejayaan bangsa sendiri oleh orang asing.


Tentang perilaku negatif yang dilarang : Jangan merasa diri yang paling benar, jaling jujur, paling lurus, Jangan menikah dengan saudara, Jangan membunuh, yang tidak berdosa, Jangan merampas hak orang lain. Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah. Jangan saling mencurigai.


Halaman 3 :

Pegangan Hidup

  • Harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut kabuyutan (tanah yang disakralkan).
  • Siapa saja yang dapat menduduki tanah yang disakralkan (Galunggung), akan beroleh kesaktian, unggul perang, berjaya, bisa mewariskan kekayaan sampai turun temuru
  • Bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan itu
  • Cegahlah kabuyutan (tanah yang disucikan) jangan sampai dikuasai orang asing
  • Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan/tanah airnya.
  • Perilaku yang dilarang, yakni jangan memarahi orang yang tidak bersalah ;
  • Jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanahnya (kabuyutannya) pada jamannya.

Halaman 4

Pegangan Hidup

  • Hindarilah sikap tidak mengindahkan aturan, termasuk melanggar pantangan diri sendiri
  • Orang yang melanggar aturan, tidak tahu batas, tidak menyadari akan nasihat para leluhurnya, sulit untuk diobati sebab diserang musuh yang “halus”.
  • Orang yang keras kepala, yaitu orang yang ingin menang sendiri, tidak mau mendengar nasihat ayah-bunda, tidak mengindahkan ajaran moral (patikrama). Ibarat pucuk alang-alang yang memenuhi tegal.

Halaman 5

Pegangan Hidup

  • Orang yang mendengarkan nasihat leluhurnya akan tenteram hidupnya, berjaya
  • Orang yang tetap hati seibarat telah sampai di puncak gunung
  • Bila kita tidak saling bertengkar dan tidak merasa diri paling lurus dan paling benar, maka manusia di seluruh dunia akan tenteram, ibarat gunung yang tegak abadi, seperti telaga yang bening airnya; seperti kita kembali ke kampung halaman tempat berteduh.
  • Peliharalah kesempurnaan agama, pegangan hidup kita semua.
  • Jangan kosong (tidak mengetahui) dan jangan merasa bingung dengan ajaran keutamaan dari leluhur.
  • Semua yang dinasihatkan ini adalah amanat dari Rakeyan Darmasiksa.

Halaman 6

Pegangan Hidup


Sang Raja Purana merasa bangga dengan ayahandanya (Rakeyan Darmasiksa), yang telah membuat ajaran/pegangan hidup yang lengkap dan sempurna.


Bila ajaran Darmasiksa ini tetap dipelihara dan dilaksanakan maka akan terjadi :

  • Raja pun akan tenteram dalam menjalankan tugasnya
  • Keluarga/tokoh masyarakat akan lancar mengumpulkan bahan makanan
  • Ahli strategi akan unggul perangnya
  • Pertanian akan subur.
  • Panjang umur.
  • SANG RAMA (tokoh masyarakat) bertanggung jawab atas kemakmuran hidup ; SANG RESI (cerdik pandai, berilmu), bertanggung jawab atas kesejahteraan ; SANG PRABU (birokrat) bertanggung jawab atas kelancaran pemerintahan.

Perilaku yang dilarang, yakni : Jangan berebut kedudukan ; Jangan berebut penghasilan ; Jangan berebut hadiah.


Perilaku yang dianjurkan, yakni harus bersama- sama mengerjakan kemuliaan, melalui : perbuatan, ucapan dan itikad yang bijaksana.


Halaman 7

Pegangan Hidup


Akan menjadi orang terhormat dan merasa senang bila mampu menegakkan ajaran/agama ; akan menjadi orang terhormat bila dapat menghubungkan kasih sayang/silaturahmi dengan sesama manusia. Itulah manusia yang mulia.


Dalam ajaran patikrama (etika), yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja, yaitu apa yang kita kerjakan. Buruk amalnya ya buruk pula tapanya, sedang amalnya ya sedang pula tapanya; sempurna amalnya/kerjanya ya sempurna tapanya. Kita menjadi kaya karena kita bekerja, berhasil tapanya. Orang lainlah yang akan menilai pekerjaan/tapa kita.


Perilaku yang dianjurkan : Perbuatan, ucapan dan tekad harus bijaksana.


Harus bersifat hakiki, bersungguh-sungguh, memikat hati, suka mengalah, murah senyum, berseri hati dan mantap bicara.


Perilaku yang dilarang : Jangan berkata berteriak, berkata menyindir-nyindir, menjelekkan sesama orang dan jangan berbicara mengada-ada.


Halaman 8.

Pegangan Hidup :

  • Bila orang lain menyebut kerja kita jelek (maksudnya bukan jelek fisik/tubuh), yang harus disesali adalah diri kita sendiri.
  • Tidak benar, karena takut dicela orang, lalu kita tidak bekerja/bertapa.
  • Tidak benar pula bila kita berkeja hanya karena ingin dipuji orang.
  • Orang yang mulia itu adalah yang sempurna amalnya, dia akan kaya karena hasil tapanya itu.
  • Camkan ujaran para orang tua agar masuk surga di kahiyangan
  • Kejujuran dan kebenaran itu ada pada diri sendiri
  • Itulah yang disebut dengan kita menyengaja berbuat baik.

Perilaku yang dianjurkan :

Harus cekatan, terampil, tulus hati, rajin dan tekun, bertawakal, tangkas, bersemangat, perwira – berjiwa pahlawan, cermat, teliti, penuh keutamaan dan berani tampil. Yang dikatakan semua ini itulah yang disebut orang yang BERHASIL TAPANYA, BENAR-BENAR KAYA, KESEMPURNAAN AMAL YANG MULIA.


Halaman 9

Pegangan Hidup :

Perlu diketahui bahwa yang mengisi neraka itu adalah manusia yang suka mengeluh karena malas beramal ; banyak yang diinginkannya tetapi tidak tersedia di rumahnya; akhirnya meminta-minta kepada orang lain.


Perilaku yang dilarang :

Arwah yang masuk ke neraka itu dalam tiga gelombang, berupa manusia yang pemalas, keras kepala, pander – bodoh, pemenung, pemalu, mudah tersinggung – babarian, lamban, kurang semangat, gemar tiduran, lengah, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian – pengecut, mudah kecewa, keterlaluan/luar dari kebiasaan, selalau berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya padangan omongan orang lain, tidak teguh memegang amanat, sulit hat, rumit mengesalkan, aib dan nista


Halaman 10

Pegangan Hidup :

  • Orang pemalas tetapi banyak yang diinginkannya selalu akan meminta dikasihani orang lain. Itu sangat tercela.
  • Orang pemalas seperti air di daun talas, plin-plan namanya. Jadilah dia manusia pengiri melihat keutamaan orang lain.
  • Amal yang baik seperti ilmu padi makin lama makin merunduk karena penuh bernas.
  • Bila setiap orang berilmu padi maka kehidupan masyarakat pun akan seperti itu.
  • Janganlah meniru padi yang hampa, tengadah tapi tanpa isi.
  • Jangan pula meniru padi rebah muda, hasilnya nihil, karena tidak dapat dipetik hasilnya.

Halaman 11

Pegangan Hidup

  • Orang yang berwatak rendah, pasti tidak akan hidup lama.
  • Sayangilah orang tua, oleh karena itu hati-hatilah dalam memilih isteri, memilih hamba agar hati orang tua tidak tersakiti.
  • Bertanyalah kepada orang-orang tua tentang agama hukum para leluhur, agar hirup tidak tersesat.
  • Ada dahulu (masa lampau) maka ada sekarang (masa kini), tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa yang terdahulu.
  • Ada pokok (pohon) ada pula batangnya, tidak akan ada batang kalau tidak ada pokoknya.
  • Bila ada tunggulnya maka tentu akan ada batang (catang)-nya.
  • Ada jasa tentu ada anugerahnya. Tidak ada jasa tidak akan ada anugerahnya.
  • Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia.

Halaman 12

Pegangan Hidup:

  • Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia- sia, dan akhirnya sama saja dengan tidak beramal yang baik.
  • Orang yang terlalu banyak keinginannya, ingin kaya sekaya-kayanya, tetapi tidak berkarya yang baik, maka keinginannya itu tidak akan tercapai.
  • Ketidak-pastian dan kesemerawutan keadaan dunia ini disebabkan karena salah perilaku dan salah tindak dari para orang terkemuka, penguasa, para cerdik pandai, para orang kaya; semuanya salah bertindak, termasuk para raja di seluruh dunia
  • Bila tidak mempunyai rumah/kekayaan yang banyak ya jangan beristri banyak.
  • Bila tidak mampu berproses menjadi orang suci, ya jangan bertapa.

HALAMAN 13
Pegangan Hidup:

  • Keinginan tidak akan tercapai tanpa berkarya, tidak punya keterampilan, tidak rajin, rendah diri, merasa berbakat buruk. Itulah yang disebut hidup percuma saja.
  • Tirulah wujudnya air di sungai, terus mengalir dalam alur yang dilaluinya. Itulah yang tidak sia-sia. Pusatkan perhatian kepa cita-cita yang diinginkan. Itulah yang disebut dengan kesempurnaan dan keindahan
  • Teguh semangat tidak memperdulikan hal-hal yang akan mempengaruhi tujuan kita.

Perilaku yang dianjurkan:

  • Perhatian harus selalu tertuju/terfokus pada alur yang dituju.
  • Senang akan keelokan/keindahan.
  • Kuat pendirian tidak mudah terpengaruh.
  • Jangan mendengarkan ucapan-ucapan yang buruk.
  • Konsentrasikan perhatian pada cita-cita yang ingin dicapai.

sumber : http://akibalangantrang.blogspot.com/2008/09/naskah-amanat-galungung.html

Categories: Naskah Sejarah Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: